Suku Bunga Jepang Tertinggi dalam 30 Tahun, Ekonomi Global Panik

BoJ Naikkan Suku Bunga Tertinggi dalam 30 Tahun: Akankah Ekonomi Global Terguncang?

TOKYO – Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) secara mengejutkan mengambil langkah agresif dalam kebijakan moneter terbarunya. Ekonomi Global Dalam rapat dewan gubernur Desember 2025, BoJ resmi menaikkan suku bunga acuan ke level 0,75%, sebuah angka tertinggi yang pernah tercatat sejak tahun 1995.

Ekonomi Global

Langkah ini menandai berakhirnya era suku bunga rendah yang telah berlangsung selama tiga dekade di Jepang, sekaligus memicu gelombang kekhawatiran di pasar keuangan global.

Pergerakan Ekonomi Global Berlawanan: BoJ vs The Fed

Fenomena unik terjadi di panggung ekonomi dunia. Saat BoJ terus mengerek suku bunga dari level minus 0,1% (Maret 2024) hingga mencapai 0,75% saat ini, Bank Sentral AS (The Fed) justru melakukan hal sebaliknya.

The Fed secara konsisten memangkas suku bunga Fed Fund Rates (FFR) dari 5,33% pada September 2024 menjadi 3,64% pada Desember 2025. Perbedaan arah kebijakan ini menciptakan volatilitas baru di pasar mata uang dan arus modal internasional.


Mengapa Kenaikan Bunga BoJ Sangat Berbahaya bagi Investor?

Ada tiga alasan utama mengapa kebijakan bank sentral Jepang kali ini menjadi sorotan tajam para ekonom dunia:

1. Ancaman terhadap Strategi “Carry Trade”

Selama bertahun-tahun, investor global menggunakan Yen sebagai mata uang pinjaman karena bunganya yang murah (bahkan negatif) untuk membeli aset berisiko di AS dan Eropa. Dengan naiknya suku bunga BoJ, nilai Yen menguat, membuat biaya pelunasan utang melonjak. Hal ini bisa memicu aksi jual massal (sell-off) pada saham dan obligasi global demi melunasi pinjaman Yen.

2. Repatriasi Dana Besar-besaran

Investor Jepang adalah salah satu pemegang obligasi pemerintah AS (US Treasury) terbesar di dunia. Ketika suku bunga di dalam negeri Jepang mulai menarik, dana pensiun dan perusahaan asuransi Jepang kemungkinan besar akan menarik dana mereka dari luar negeri untuk pulang kampung (repatriasi).

3. Kenaikan Biaya Pinjaman Global

Frederic Neumann, Kepala Ekonom HSBC Asia, memperingatkan bahwa jika suku bunga Jepang menyentuh angka 1% hingga 2% dalam beberapa tahun ke depan, dampaknya akan terasa pada kenaikan biaya pinjaman bagi rumah tangga dan pelaku usaha di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat.


Intisari Berita: Yang Perlu Anda Ketahui

Untuk membantu Anda memahami situasi ini dengan lebih cepat, berikut adalah poin-poin pentingnya:

  • Rekor 30 Tahun: Suku bunga 0,75% adalah yang tertinggi bagi Jepang sejak 1995.

  • Transisi Cepat: Dalam kurang dari dua tahun, Jepang berhasil keluar dari zona suku bunga negatif.

  • Divergensi Kebijakan: Jepang memperketat (hawkish), sementara AS melonggarkan (dovish) kebijakan moneternya.

  • Risiko Likuiditas: Ada potensi guncangan pada pasar saham dunia akibat penutupan posisi carry trade.

  • Potensi Pelemahan Dolar: Penarikan dana investor Jepang dapat menekan nilai tukar Dolar AS terhadap Yen.


Analisis Ahli: Antara Inflasi dan Risiko Resesi

Meski BoJ berupaya memerangi inflasi yang telah lama stagnan di Jepang, para ahli memperingatkan risiko yang membayangi.

Stefan Angrick, Kepala Ekonom Moody’s Analytics, menilai bahwa ekonomi Jepang berisiko kehilangan momentum. “Akan sulit bagi mereka untuk melangkah lebih jauh dari posisi saat ini tanpa mengorbankan pertumbuhan domestik,” ujarnya.

Namun, untuk saat ini, data menunjukkan bahwa investor Jepang masih cukup aktif di luar negeri dengan pembelian bersih surat berharga sebesar US$ 102 miliar hingga November 2025. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada kekhawatiran, eksodus modal belum terjadi secara drastis dalam waktu singkat.

asia88

gullmedalje.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*