Dolar AS Lesu Kok Rupiah Malah Melemah? Ini Penjelasan Gubernur BI!

Rupiah Tembus Rekor Terlemah Rp16.945: Mengapa Tetap Loyo Saat Dolar AS Melemah?

JAKARTA – Nilai tukar Rupiah kembali menjadi pusat perhatian setelah mencetak rekor pelemahan terdalam sepanjang sejarah. Berdasarkan data Refinitiv pada penutupan perdagangan Selasa (20/1/2026), Rupiah bertengger di level Rp16.945 per dolar AS, kian mendekati level psikologis krusial Rp17.000.

Dolar AS

Fenomena kali ini tergolong anomali. Biasanya, Rupiah menguat saat indeks dolar AS (DXY) melemah. Namun, meski DXY anjlok 0,76% ke level 98,641 (penurunan harian terdalam sejak Agustus 2025), Rupiah justru tetap tertekan.

Intisari Berita (Key Highlights)

  • Rekor Terendah: Rupiah mencapai Rp16.945/US$, melampaui rekor buruk sebelumnya pada April 2025.

  • Anomali Pasar: Rupiah melemah di tengah tren penurunan indeks dolar global (DXY).

  • Penyebab Global: Geopolitik, tarif resiprokal AS, dan tingginya yield US Treasury.

  • Penyebab Domestik: Tingginya kebutuhan valas korporasi (Pertamina, PLN, Danantara) dan persepsi pasar terhadap isu fiskal.

  • Respon Bank Indonesia: BI siap melakukan intervensi besar-besaran di pasar Spot dan DNDF untuk menjaga stabilitas.


Faktor Global: Bukan Sekadar Dolar AS

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa meski dolar global melemah, ada tekanan lain yang menghambat aliran modal masuk ke pasar negara berkembang (emerging markets).

“Kondisi global dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik dan kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat,” ujar Perry dalam konferensi pers RDG BI, Rabu (21/1/2026). Selain itu, yield US Treasury tenor 2 dan 3 tahun yang tetap tinggi membuat investor lebih memilih memarkir dananya di instrumen aman di negara maju. Tercatat terjadi net outflow sebesar US$1,6 miliar hingga pertengahan Januari 2026.

Tekanan Domestik: Kebutuhan Korporasi dan Isu Internal

Dari sisi internal, pelemahan Rupiah dipicu oleh tingginya permintaan valuta asing (valas) dari perusahaan besar seperti Pertamina, PLN, dan Danantara. Kebutuhan ini biasanya berkaitan dengan pembayaran utang atau impor energi.

Selain itu, sentimen pasar sedikit terganggu oleh persepsi terhadap kondisi fiskal nasional serta proses pencalonan Deputi Gubernur BI. Namun, Perry menegaskan bahwa proses tersebut berjalan sesuai undang-undang dan tidak akan menggoyahkan profesionalisme Bank Indonesia.

Analisis: Mengapa “Janggal”?

Secara teori, hubungan antara Rupiah dan Indeks Dolar (DXY) adalah negatif. Namun, saat ini terjadi decoupling atau pemutusan hubungan sementara. Hal ini bisa terjadi karena:

  1. Risiko Spesifik Negara: Investor melihat risiko domestik lebih besar daripada keuntungan dari pelemahan dolar.

  2. Likuiditas Valas: Kelangkaan pasokan dolar di pasar domestik meskipun di pasar global sedang melimpah.


Langkah Berani Bank Indonesia

Menanggapi tekanan ini, Bank Indonesia menegaskan tidak akan tinggal diam. BI berkomitmen melakukan intervensi “dalam jumlah besar” melalui:

  • Pasar Spot: Intervensi langsung di pasar tunai.

  • DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward): Menjaga ekspektasi nilai tukar di masa depan.

  • Cadangan Devisa: BI mengklaim cadangan devisa masih sangat mencukupi untuk melakukan stabilisasi.

“Kami meyakini Rupiah akan stabil dan bahkan cenderung menguat ke depannya, didukung oleh fundamental ekonomi yang baik, inflasi yang rendah, dan imbal hasil yang tetap menarik,” tegas Perry optimis.

Situs Judi Slot Online dan Bola Online Terpercaya Kadobet.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*